Select Page
Jakarta — Impian memiliki rumah tampaknya semakin menjauh bagi sebagian besar generasi Milenial dan Gen Z di Indonesia. Meski kebutuhan akan hunian terus meningkat, kemampuan membeli rumah justru semakin menurun akibat kombinasi harga properti yang meroket dan stagnannya pertumbuhan pendapatan.

Dalam lima tahun terakhir, harga rumah di kawasan perkotaan tercatat naik lebih dari 20–35 persen, sementara kenaikan gaji rata-rata pekerja muda tidak mencapai 10 persen. Ketimpangan ini membuat banyak anak muda hanya mampu menjadi penyewa, bukan pemilik rumah.

“Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya. Harga rumah melaju jauh lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan mereka,” ujar seorang analis properti nasional.


Harga Rumah Tidak Lagi Masuk Akal untuk Penghasilan Pemula

Berdasarkan pengamatan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, harga rumah tapak kelas menengah sudah menembus kisaran Rp 700 juta – Rp 1,2 miliar. Sementara itu, gaji kerja pertama (fresh graduate) hanya berada di kisaran Rp 4–7 juta per bulan.

Perbandingan ini membuat rasio kemampuan beli rumah (housing affordability ratio) generasi muda berada pada level merah.

“Untuk DP (down payment) saja mereka butuh waktu tabungan bertahun-tahun. Belum lagi cicilan yang bisa mencapai setengah dari gaji,” tambah seorang pakar pembiayaan KPR.


Biaya Hidup Meningkat, Ruang Menabung Menyempit

Selain harga rumah yang naik, biaya hidup juga terus meningkat. Sewa kos, transportasi, kebutuhan digital, dan gaya hidup perkotaan membuat ruang menabung generasi muda semakin sempit.

Banyak Milenial dan Gen Z mengaku bahwa mengumpulkan DP rumah 10–20 persen menjadi sesuatu yang hampir mustahil tanpa bantuan orang tua.


Tren Baru: Membeli Lebih Jauh atau Beralih ke Hunian Mikro

Kondisi ini memunculkan tren baru di kalangan generasi muda:

  • Membeli rumah di pinggiran kota yang berjarak 20–40 km dari pusat pekerjaan
  • Memilih apartemen studio atau unit kecil sebagai alternatif awal
  • Mengandalkan KPR tenor panjang 20–30 tahun
  • Berinvestasi tanah kaveling yang lebih terjangkau untuk pembangunan jangka panjang

Namun, solusi-solusi tersebut pun tidak menjamin kemudahan karena akses transportasi dan biaya hidup masih menjadi hambatan utama.


Kesimpulan: Generasi Muda Butuh Kebijakan Lebih Berpihak

Para ahli menilai pemerintah dan pelaku industri perlu menghadirkan kebijakan serta inovasi baru yang lebih berpihak pada generasi muda, seperti subsidi DP, suku bunga ringan, pembangunan hunian terjangkau, dan keterjaminan transportasi massal.

Tanpa itu semua, impian memiliki rumah bisa menjadi sesuatu yang semakin jauh dari jangkauan Milenial dan Gen Z.


 

Bottom Nav